lupa judulnya

Akhirnya setelah sekian lama saya akhirnya bisa ngeblog lagi. Begitu banyak hal telah terlewati. Begitu banyak masalah yang sudah kulewati. Dari hape ilang, bukan satu aja, tapi dua-duanya men. Sampai aku jatuh dari motor yang mengakibatkan pergelangan tanganku sebelah kiri retak. Dulu aku pernah bercita-cita ingin jadi penulis, namun susah kalo mau jadi penulis yang profesional. Jadi kusalurkan saja ke sebuah blog. Ya ini blognya. Pokoknya aku hanya ingin menulis, menulis dan menulis.
Selalu saja setiap jalan yang kita hadapi akan selalu ada berbagai bentuk suatu masalah, baik itu masalah kita sendiri maupun yang menyangkut masalah orang lain dan khalayak banyak. Mungkin dimulai dari hape soner ku yang ilang (w 610i) di tempat kerja di Sangatta, Kaltim. Sebenarnya aku sudah melihat hape itu, tapi sudah lah biar ku ikhlaskan saja. Karena suatu ketika pernah juga aku berpikir, dan pikiran itu seperti sebuah permintaan. Walaupun mungkin bukan sebuah permintaan yang baik. Jadi suatu saat aku pernah berpikir, bagaimana ya kalau hape saya ilang? Pasti akan beli hape yang baru, jadi punya hape baru. Sebenarnya sebelum hilang pun aku sudah beli hape baru ( Nokia E72) namun setelah beli malah hapenya ilang setelah menemaniku selama 3 tahun.
Di lain kesempatan ketika kemarin aku cuti baru 2 hari dirumah hapeku satu( LG KM900)nya ikut-ikutan kabur dari pemiliknya.

malapetaka

Mungkin ini lagi naas saya. Baru 2 hari cuti hp yang harganya 4 juta hilang. Padahal masih di sekitar daerah saya. Dicari-cari gak ketemu. Ya udah saya ikhlaskan saja.
2 hari kemudian Adik perempuan saya menikah. Keesokan harinya saya berencana ke Jogja mau ke rumah temen sekalian memperbaiki PS2 yang rusak. Nggak tau kepikiran apa atau melamun apa saya jatuh dari motor di sekitar Sukoreno, Sentolo. Sial.
Pergelangan tangan kiri saya retak dan tangan kanan saya di jahit 5 jahitan. Dan luka-luka lainnya. Saya langsung di tolong oleh warga sekitar dan diantar ke Puskesmas 1 Sentolo untuk pertolongan pertama. Kemudian keluargaku datang menjemputku dan mengantarku ke IGD RSUD Wates untuk memasang gips di tangan kiriku.
Sekarang saya cuti gak bisa kemana-mana. Terpaksa diam di rumah sampai nanti balik ke Balikpapan.

Ketika Guru Tidak Boleh Mengajar

Sebenarnya judul di atas adalah sebuah perumpamaan. Ini masalah yang ada di dekat saya, sangat dekat.

Ada seorang petani. Dia petani gula jawa. Pembuatan gula jawa sebenarnya cukup sederhana. Setelah air nira diambil dari pohon kelapa, kemudian dimasak selama beberapa jam. setelah mengental maka akan dituang dalam cetakan. Ditunggu dingin dan kemudian akan mengeras sendiri. Maka jadilah gula jawa, atau biasa juga di sebut gula merah.

Didalam memasak air nira biasanya para petani gula jawa menggunakan kayu bakar yang diambil dari kebun atau hutan terdekat.

Pemerintah punya peraturan mengenai bidang kehutanan. Seperti dilarangnya pembalakan liar. Yaitu penebangan hutan secara membabi buta. Secara besar-besaran. Yang kemudian dijual untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Dan tentu saja sangat merugikan negara.

Nah, apakah pemerintah tidak tahu tentang perbedaan para pembalak liar dengan petani gula jawa. Para petani gula jawa memang membutuhkan kayu bakar untuk memasak air nira. Tetapi tidak sebanyak para pembalak liar. Mereka mencari kayu bakar sehari hanya 1 sampai 2 kali saja. Itu pun menggunakan senjata tajam yang sederhana. Mereka hanya mengambil rantingnya saja. Ranting kering. Atau pohon, pohon yang tua. Kayu kering.apakah mereka bisa disamakan dengan para pembalak liar yang menebang pohon sampai berkubik-kubik.

Apa yang akan dikasih para petani gula jawa pada keluarganya, anak istrinya. Apakah mereka merugikan negara?