Apakah berdosa membaca buku “Curhat Setan”?

4:41:00 PM


Saat pertama kali saya melihat buku ini, saya berpikir “Wah” buku apa ini? “ Curhat Setan”. Saya sangat penasaran, pertama kali saya berpikiran, jangan jangan ini buku tentang religi-religi gitu, atau tentang SARA. Saya takut jika nanti saya membaca buku ini, maka iman saya bisa tergoyahkan. Kita tahu setan adalah musuh manusia, dan kalau dilihat dari judulnya kenapa kok kita malah mencurahkan hati kita kepada kaum mereka.

Bagian yang paling menarik dari buku ini adalah tentu saja seperti judulnya yaitu bagian curhat setan ( halaman 125 ). Di bagian itu yakni si pengarang merasa sesuatu yang aneh. Dia berada di suatu tempat yang sama sekali tidak di kenal ( walaupun ini sebenarnya di dalam sebuah mimpi ). Dia bertemu dengan seseorang yang sebenarnya setan, namun berpenampilan jauh seperti setan kebanyakan. Mereka ( si pengarang dan si setan ) akhirnya saling mengobrol dan bertukar pikiran tentang masalah si setan yang merasa selalu berada di pihak yang salah. Mengapa setan harus di ciptakan untuk menjadi si buruk? Mengapa dia tidak punya pilihan untuk menjadi yang baik? Apakah Tuhan menciptakannya secara tidak adil? Si Pengarang merasa itu suatu kebenaran dan merasa tersanjung akan setan. Pengarang merasa Tuhan memang salah. Dan dia pun ditawari kerja sama untuk melawan Tuhan. Dan dia menerima ajakan itu. Nah, sampai di sini saya merasa Pengarang benar-benar ingin mengajak juga saya untuk ikut serta. Saya merasa pengarang ini salah. Saya merasa buku ini salah. Saya merasa buku ini salah jalan. Buku ini membawa malapetaka kepada pembacanya. Saya kira di sinilah menariknya ketika akhirnya mereka bersepakat untuk bekerja sama. Dan mereka memutuskan dalam kerja sama ini harus ada pemimpinnya. Tentu saja dari mereka tidak ada yang mau mengalah. Setan tidak mau mengalah, begitupun juga manusia ( si Pengarang ). Kita tahu manusia lebih sempurna dari setan, walaupun kita hanya di ciptakan dari lumpur. Tapi kita tidak akan pernah menyembah setan. Kita ini makhluk sempurna, bahkan lebih sempurna dari pada malaikat. Karena kita mempunyai perasaan, kita bisa memilih yang diantara baik dan buruk. Akhirnya kesepakatan dibatalkan. Dan tidak terjadi kerja sama antara manusia dan setan. Setan pun pergi. Di sini kita bisa memetik pelajarannya. Setan tidak akan berhenti untuk menggoda kita, tidak akan berhenti menjerumuskan kita kepada keburukan. Mereka akan melakukan berbagai cara agar kita masuk neraka. Dan kita bisa memilih mana yang buruk dan mana yang benar.

Dan bila saya dimintai lagi untuk mencari bagian-bagian yang lain yang menarik, itu susah, karena menurut saya dalam buku yang gak jelas genre-nya ini, setiap bagian cerita mempunyai makna tersendiri. Setiap bagian menceritakan masalahnya tersendiri, yang saya rasa melekat di setiap kehidupan manusia. Seperti halnya di bagian yang berjudul “ Cermin “ ( halaman 49 ). Di situ di ungkapkan misteri sebuah cermin. Cermin sangat dekat dengan kehidupan kita. Di kamarmu ada cermin. Saat kita naik kendaraan seperti sepeda motor ataupun mobil ada cermin di spion. Di airpun bagaikan cermin. Yang ditanyakan sebenarnya kehidupan apa yang ada di balik cermin sana. Bayangan di balik cermin begitu dekat dengan kita, namun kita tidak bisa kesana. Mengapa? Cermin merupakan pembatas, cermin merupakan penghubung. Membatasi apa dan menghubungkan apa?

Kemudian bagian yang berjudul “ Dendam Sejarah “ ( halaman31 ). Seperti halnya pengarang yang tentu hobbi menulis. Saya merasakan hal yang sama. Saya suka membaca dan juga menulis. Mengapa kita lebih mengenal orang-orang lain yang terkenal seperti Albert Einstein, Pramoedya Ananta Toer, dan lainnya daripada kakek-nenek kita sendiri. Yaitu karena mereka menulis. Mereka meninggalkan sesuatu untuk mengenang mereka. Mereka menulis dan dari tulisan itu mereka bisa dikenal. Kita harus berkarya. Kita tidak mau cucu kita nanti lebih mengenal orang lain dari pada kakeknya sendiri. Pengarang mengingatkan kita pentingnya menulis. Menulis identik dengan membaca. Menulis tidak akan jauh dari membaca. Orang yang bisa menulis pasti bisa membaca. Kitab-kitab setiap agama di dunia ini berupa tulisan. Baik itu Al Qur’an, Injil, Weda, dan lain-lainnya. Semua berupa tulisan. Jika tulisan itu tidak ada. Maka agamapun akan hilang. Kita akan lupa dengan agama kita. Seperti kita lupa dengan kakek kita. Apa yang dilakukan kakek kita di masa lampau. Kita tidak tahu pasti. Karena mereka tidak menuliskannya.

Buruan beli bukunya ya. Buku ini sangat menarik. Kamu akan menemukan hal yang berbeda dalam buku ini. Buku ini diterbitkan oleh Gagas Media, kamu bisa mengunjungi websitenya di sini. Jangan lupa buku ini karangan Fahd Djibran, kamu bisa mengunjungi blognya di sini.
Buku “Curhat Setan “ juga ada soundtracknya lho yang di nyanyikan oleh BFDF

You Might Also Like

0 coments